Skip to main content

Into The Void

I erased all my social media, burned all my works, diary, and id
I ran away from my home, left everyone that I know
I sailed away to Hindia ocean
I tied my feet into a heavy rock, drowned it into that deep dark blue see

My body followed the rock
Drown, drown
I saw fishes
Another fishes
Another weird shit that I had never seen before
The deeper I got, the weirder things went by

Black, until there was nothing no light, no colors to be seen
Deep and dark, my body accelerated
Nothing left to be own, neither left to be feel
Only me, drowning into the void

I feel completely free, nothing bind me, not even myself, because I'm going to die soon
Become a part of nothingness
Increase it's number
But could the nothingness gets increased?

Did I really want to be free?
Did I really want to be a part of nothing?
But if nothingness could get increased, then I'll be a part of something
Nothingness itself

Perhaps, I was never looking for freedom
They were just what I thought I want
At the end, I always try to find something that I belong to
Or someone
At the end, I always try to find something where I can go back to
Nothingness

Comments

Popular posts from this blog

Rekam Jejak Ganja Sintetis

Mendengar dan mendapat informasi dari beberapa pengguna, seperti R dan T tentang penggunaan ganja sintetis. Mereka mengatakan bagaimana mendapatkan “barang” (ganja sintetis) itu dan keduanya mengakui betapa mudah mendapatkannya. Dari sana, kami menelusuri sebenarnya bagaimana awal mula atau rekam jejak mengenai ganja sintetis ini. Sebagai aktivis yang bergerak untuk melegalkan ganja, Dhira Narayana dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN), mengaku pernah mendapatkan ganja sintetis ini sekitar tahun 2012 yang ia dapatkan dari temannya. Ia pun mengaku tertipu karena ternyata efek yang dihasilkan berbeda dari yang alami. Baginya ganja sintetis itu lebih berbahaya. “Ya, pertama kali make ketipu di tahun 2012 dibawa sama temen dibilangnya ganja. Ketika saya pakai awalnya gelap. Rasanya seperti melihat langit tapi kayak cahaya-cahaya. Saya jadi parno, mau balik ke dunia biasa gak bisa dan saya ketakutan. Cuma 5-10 menit dan hilang. Saya gak mau make lagi, yang pasti itu berbahaya karena k...

Danau Buatan

Kuselalu membayangkannya sebagai lautan. Namun, ia tak ubahnya hanyalah sebuah danau buatan. Seketika, danau tersebut menarikku ke memori 14 tahun yang lalu. Kala itu, aku masih mengenakan seragam putih-abu, duduk di batu yang sama, dengan kekasih yang berbeda. Dalam percakapan itu, aku berkisah tentang ketakutanku memasuki dunia kuliah, ketakutanku akan sebuah perubahan, ketakutanku menjadi dewasa. Aku menangis terisak-isak. Ia merangkul dan menenangkanku. Tak lama, ada seorang anak berjualan tisu. Kami pun serentak tertawa. “Kayaknya kamu sangat butuh ini,” ujarnya. Ia menyeka air mataku dengan tisu kering yang baru dibelinya dari bocah seharga Rp 5.000. Ia memelukku, seketika tangisku pun berubah menjadi tawa. Mengingat segalanya kembali, dalam ruang yang sama, dengan waktu yang berbeda, membuatku menyadari seberapa lugunya kisahku dan ia di masa lalu, seberapa membahagiakannya. Mengingatnya kembali, membuatku rindu pada momen itu. Aku tak mungkin rindu pada lelaki itu,...

Grateful

This morning, I'm travelling on my own. Turning off my internet connection. Dragging off myself for a second from an illusion world. Watching how the tear falls from the sky fearlessly behind the window of the bus. Smelling a random combination of parfume, smoke of cigarrete, spill of a coke, and a gum. Listening  and drowning myself to the Beatles is Norwegian Wood for times. And wondering how lucky am I to still had a chance to breath in this little moment.