Skip to main content

Bising Alarm

Alarm melengkinkan suaranya
Menendang setiap sisi ruang
Memaksaku untuk membuka mata
Cahaya terik menyusup melalui jendela menembus tirai
Terpecah menjadi beberapa garis tajam
Bising
Silau

Ada yang berteriak
Ada yang bergerak
Banyak yang berteriak
Banyak yang berlari

Aku tak bergerak
Menutup telinga dan mataku
Tidak tidur pun bangun
Kuhanya meringkuk di sudut itu

Tak ingin beranjak
Tak ingin melihat mata-mata yang akan merendahkan
Mata-mata yang tak pernah kumenangkan dalam sejuta argumen
Mata-mata yang lebih besar dariku
Mata-mata yang dengan mudah menyakitiku
Mata-mata yang mampu membuatku sekarat dalam satu kedipan
Mata-mata yang tak pernah membiarkanku mati, pun hidup
Mata-mata yang jauh melebihi mataku

Mata-mata yang jauh melebihi mataku dalam segalanya

Mataku yang saat ini hanya mampu meneteskan air mata
Mataku yang takut melihat sinar matahari takut mengetahui hari telah tiba
Mataku yang gemetar mendengar alarm gemetar mengetahui harus beranjak keluar dari ruangan ini
Mataku yang cemas melihat mata-mata lain
Mataku yang menghantarkan kecemasannya melalui getaran ke sekujur tubuh
Mataku yang tidak bisa berbohong
Mataku yang lemah
Mataku yang
Mataku
Mataku menangis
Mataku menangis kembali
Mataku terus menangis
Mataku terus
Mataku terus takut
Mataku terus
Mataku
Aku
Aku takut
Aku menangis
Aku takut dan menangis
Terus takut dan menangis
Menangis dan takut
Takut terlihat menangis
Menangis karena takut

Comments

Popular posts from this blog

Danau Buatan

Kuselalu membayangkannya sebagai lautan. Namun, ia tak ubahnya hanyalah sebuah danau buatan. Seketika, danau tersebut menarikku ke memori 14 tahun yang lalu. Kala itu, aku masih mengenakan seragam putih-abu, duduk di batu yang sama, dengan kekasih yang berbeda. Dalam percakapan itu, aku berkisah tentang ketakutanku memasuki dunia kuliah, ketakutanku akan sebuah perubahan, ketakutanku menjadi dewasa. Aku menangis terisak-isak. Ia merangkul dan menenangkanku. Tak lama, ada seorang anak berjualan tisu. Kami pun serentak tertawa. “Kayaknya kamu sangat butuh ini,” ujarnya. Ia menyeka air mataku dengan tisu kering yang baru dibelinya dari bocah seharga Rp 5.000. Ia memelukku, seketika tangisku pun berubah menjadi tawa. Mengingat segalanya kembali, dalam ruang yang sama, dengan waktu yang berbeda, membuatku menyadari seberapa lugunya kisahku dan ia di masa lalu, seberapa membahagiakannya. Mengingatnya kembali, membuatku rindu pada momen itu. Aku tak mungkin rindu pada lelaki itu,...

Rekam Jejak Ganja Sintetis

Mendengar dan mendapat informasi dari beberapa pengguna, seperti R dan T tentang penggunaan ganja sintetis. Mereka mengatakan bagaimana mendapatkan “barang” (ganja sintetis) itu dan keduanya mengakui betapa mudah mendapatkannya. Dari sana, kami menelusuri sebenarnya bagaimana awal mula atau rekam jejak mengenai ganja sintetis ini. Sebagai aktivis yang bergerak untuk melegalkan ganja, Dhira Narayana dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN), mengaku pernah mendapatkan ganja sintetis ini sekitar tahun 2012 yang ia dapatkan dari temannya. Ia pun mengaku tertipu karena ternyata efek yang dihasilkan berbeda dari yang alami. Baginya ganja sintetis itu lebih berbahaya. “Ya, pertama kali make ketipu di tahun 2012 dibawa sama temen dibilangnya ganja. Ketika saya pakai awalnya gelap. Rasanya seperti melihat langit tapi kayak cahaya-cahaya. Saya jadi parno, mau balik ke dunia biasa gak bisa dan saya ketakutan. Cuma 5-10 menit dan hilang. Saya gak mau make lagi, yang pasti itu berbahaya karena k...

Membangun Lubang Hitam Bersama

Hitam. Bercak merah. Bercak merah tersebar menimpa kanvas yang beralaskan warna hitam. Dari seluruh lukisan yang ada dalam galeri seni tersebut, mataku tak lepas dari yang satu ini. Ada hal yang menarikku jauh ke dalamnya. “Apa yang kamu rasakan dari lukisan ini?” tanyanya. “Dadaku seperti dipukul berkali-kali. Ia seolah mengisapku. Nampaknya, ia adalah rumahku, rumah yang enggan kuakui,” jawabku. Kami pun cukup lama menatapnya, “aku tak kuat, mari pulang,” ujaku sembari menahan air mata dengan memaksakan diri tersenyum kepadanya. ** Kau, tak jauh berbeda dari lukisan yang terpampang di Galeri Nasional sekitar satu tahun yang lalu. Kau, yang juga menemaniku kala itu. Kau begitu indah, sekaligus menakutkan, selayaknya lukisan itu. Hitam dan merah. Dua warna favoritku. Kau pun begitu nyaman layaknya rumah. Namun, bersama kau pula, aku tak berhenti menggali lubang, mencari jalan keluar. Akku terus menggali, tapi tak pernah kutemukan jalan keluar itu. Aku terus menggali, hi...