Skip to main content

Bising Alarm

Alarm melengkinkan suaranya
Menendang setiap sisi ruang
Memaksaku untuk membuka mata
Cahaya terik menyusup melalui jendela menembus tirai
Terpecah menjadi beberapa garis tajam
Bising
Silau

Ada yang berteriak
Ada yang bergerak
Banyak yang berteriak
Banyak yang berlari

Aku tak bergerak
Menutup telinga dan mataku
Tidak tidur pun bangun
Kuhanya meringkuk di sudut itu

Tak ingin beranjak
Tak ingin melihat mata-mata yang akan merendahkan
Mata-mata yang tak pernah kumenangkan dalam sejuta argumen
Mata-mata yang lebih besar dariku
Mata-mata yang dengan mudah menyakitiku
Mata-mata yang mampu membuatku sekarat dalam satu kedipan
Mata-mata yang tak pernah membiarkanku mati, pun hidup
Mata-mata yang jauh melebihi mataku

Mata-mata yang jauh melebihi mataku dalam segalanya

Mataku yang saat ini hanya mampu meneteskan air mata
Mataku yang takut melihat sinar matahari takut mengetahui hari telah tiba
Mataku yang gemetar mendengar alarm gemetar mengetahui harus beranjak keluar dari ruangan ini
Mataku yang cemas melihat mata-mata lain
Mataku yang menghantarkan kecemasannya melalui getaran ke sekujur tubuh
Mataku yang tidak bisa berbohong
Mataku yang lemah
Mataku yang
Mataku
Mataku menangis
Mataku menangis kembali
Mataku terus menangis
Mataku terus
Mataku terus takut
Mataku terus
Mataku
Aku
Aku takut
Aku menangis
Aku takut dan menangis
Terus takut dan menangis
Menangis dan takut
Takut terlihat menangis
Menangis karena takut

Comments

Popular posts from this blog

“Mainan” Baru Candu Baru

Kamis malam awal Maret lalu, di salah satu sudut pinggiran kabupaten Sumedang, tak jauh dari kampus empat perguruan tinggi besar, sembilan pemuda (yang akan disebutkan dengan nama samaran) berkumpul di rumah seorang kawan mereka. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa baru, tapi ada pula yang dari tingkat dua dan tiga. Mahasiswa dari kampus yang berbeda-beda ini dipersatukan oleh latar belakang hobi yang sama, dan tentunya alkohol. Mereka bercanda, makan malam, serta bermain kartu. Sebuah rutinitas untuk memangkas waktu bersama. Salah seorang hadir membawakan permainan baru bagi malam itu. Permainan tersebut tertanam dalam tiga lintingan kecil dan tersembunyi di dalam kotak rokok. Tentunya bukan rokok dan terlalu mungil untuk ganja. Mereka sebuah tembakau yang akrab dengan julukan “sinte” atau “ganja sintetis”. Salah seorang dari mereka, Jarwo, mengambil dan menyulutnya. Ia mengisap hanya dalam satu tarikan. Dilanjutkan ke temannya, Andre, yang memang sudah terbiasa menggunakan...

Rekam Jejak Ganja Sintetis

Mendengar dan mendapat informasi dari beberapa pengguna, seperti R dan T tentang penggunaan ganja sintetis. Mereka mengatakan bagaimana mendapatkan “barang” (ganja sintetis) itu dan keduanya mengakui betapa mudah mendapatkannya. Dari sana, kami menelusuri sebenarnya bagaimana awal mula atau rekam jejak mengenai ganja sintetis ini. Sebagai aktivis yang bergerak untuk melegalkan ganja, Dhira Narayana dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN), mengaku pernah mendapatkan ganja sintetis ini sekitar tahun 2012 yang ia dapatkan dari temannya. Ia pun mengaku tertipu karena ternyata efek yang dihasilkan berbeda dari yang alami. Baginya ganja sintetis itu lebih berbahaya. “Ya, pertama kali make ketipu di tahun 2012 dibawa sama temen dibilangnya ganja. Ketika saya pakai awalnya gelap. Rasanya seperti melihat langit tapi kayak cahaya-cahaya. Saya jadi parno, mau balik ke dunia biasa gak bisa dan saya ketakutan. Cuma 5-10 menit dan hilang. Saya gak mau make lagi, yang pasti itu berbahaya karena k...

Hari Pelantikan

Gemuruh suara langkah memenuhi ruang hampa di lapangan sore itu. Langkah dengan ritme yang seirama. Sore itu merupakan hari pelantikan bagi kami. Sebuah penantian panjang yang telah kami tunggu sejak hari pertama pelatihan kami. Sebuah momen yang telah kami bayangkan sejak awal kami memasuki tempat ini. Sebuah impian yang kerap kali padam selama masa pelatihan berat ini. Namun, memang untuk mendapatkan suatu gelar yang besar, kami perlu mengorbankan hal yang besar pula. Segala sesuatu yang kami korbankan, waktu, tenaga, pikiran, memang sebanding rasanya dengan apa yang kami dapatkan hari ini. Seperangkat alat panah diberikan pada kami. Mataku terpukau melihat rapihnya barisan kami dihiasi warna-warni sayap yang memenuhi ruang itu. Setiap sayap memiliki keunikan dan warna yang menjadi simbol karakter mereka. Aku? Aku terlahir tanpa pigmen warna, hanya sayap putih polos yang menemaniku. Salah seorang malaikat besar dengan sayap hijau mendekatiku dan memberikan tempat berbulu putih y...