Skip to main content

Overrated (The Fault in Our Stars)

The Fault in Our StarsThe Fault in Our Stars by John Green

My rating: 3 of 5 stars


I don't hate this book,but it's definately not my favorite from John Green's work. I found it sad but I didn't cried. I felt the romance, but I didn't touched. It is a pretty good book, but not great. I read about Hazel and August, but somehow my favorite character is Isaac.

I read this book twice, the first one on 2013, my friend recommended me, I was intrested because I saw the good rating on goodreads.

But when I read it, I found it a little bit cheesy, I didn't said that it was afwul, but there are a thousand kind of this story outside, it's not a new one, reall Love-Cancer-Die.

When the movie was out, the rating got higher and higher ( seriously? )
Everyone read and talk about it. Then I read it for the second time, just to make sure my opinion, but still, it's OVERRATED




View all my reviews

Comments

Popular posts from this blog

Danau Buatan

Kuselalu membayangkannya sebagai lautan. Namun, ia tak ubahnya hanyalah sebuah danau buatan. Seketika, danau tersebut menarikku ke memori 14 tahun yang lalu. Kala itu, aku masih mengenakan seragam putih-abu, duduk di batu yang sama, dengan kekasih yang berbeda. Dalam percakapan itu, aku berkisah tentang ketakutanku memasuki dunia kuliah, ketakutanku akan sebuah perubahan, ketakutanku menjadi dewasa. Aku menangis terisak-isak. Ia merangkul dan menenangkanku. Tak lama, ada seorang anak berjualan tisu. Kami pun serentak tertawa. “Kayaknya kamu sangat butuh ini,” ujarnya. Ia menyeka air mataku dengan tisu kering yang baru dibelinya dari bocah seharga Rp 5.000. Ia memelukku, seketika tangisku pun berubah menjadi tawa. Mengingat segalanya kembali, dalam ruang yang sama, dengan waktu yang berbeda, membuatku menyadari seberapa lugunya kisahku dan ia di masa lalu, seberapa membahagiakannya. Mengingatnya kembali, membuatku rindu pada momen itu. Aku tak mungkin rindu pada lelaki itu,...

Rekam Jejak Ganja Sintetis

Mendengar dan mendapat informasi dari beberapa pengguna, seperti R dan T tentang penggunaan ganja sintetis. Mereka mengatakan bagaimana mendapatkan “barang” (ganja sintetis) itu dan keduanya mengakui betapa mudah mendapatkannya. Dari sana, kami menelusuri sebenarnya bagaimana awal mula atau rekam jejak mengenai ganja sintetis ini. Sebagai aktivis yang bergerak untuk melegalkan ganja, Dhira Narayana dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN), mengaku pernah mendapatkan ganja sintetis ini sekitar tahun 2012 yang ia dapatkan dari temannya. Ia pun mengaku tertipu karena ternyata efek yang dihasilkan berbeda dari yang alami. Baginya ganja sintetis itu lebih berbahaya. “Ya, pertama kali make ketipu di tahun 2012 dibawa sama temen dibilangnya ganja. Ketika saya pakai awalnya gelap. Rasanya seperti melihat langit tapi kayak cahaya-cahaya. Saya jadi parno, mau balik ke dunia biasa gak bisa dan saya ketakutan. Cuma 5-10 menit dan hilang. Saya gak mau make lagi, yang pasti itu berbahaya karena k...

Alternatif Baru Dari Ganja Alami

Ganja sintetis merupakan anggota narkoba baru yang secara hukum baru diilegalkan awal tahun ini. Umumnya, ganja sintetis sendiri terbuat dari tembakau yang diberikan zat-zat kimia sehingga menghasilkan efek yang mirip dengan ganja. Namun berkali-kali lebih memabukkan atau “naik” dan membahayakan. Sebelum hadirnya aturan mengenai ganja sintetis, ia seringkali dianggap sebagai barang yang cenderung lebih aman, tidak terdeteksi, dan lebih mudah didapatkan dibandingkan ganja. Oleh karena itu, di beberapa negara seringkali disebut dengan legal high. Dania Putri, ahli aturan obat-obat internasional dan kebijakan obat-obatan di Asia Tenggara, mengatakan ganja sintetis ini muncul sebagai alternatif dari ganja saat ia diilegalkan. Salah seorang mahasiswa universitas negeri di Jawa Barat berinisial T (21) menceritakan bahwa ia seringkali menggunakan ganja sintetis sebagai pengganti ganja saat ganja sedang sulit didapatkan. Ganja sintetis sendiri memang lebih mudah untuk didapatkan. Bahkan seb...