Saat tubuhku terbaring tapi rohku terbang dan melompat dari satu ke awan lainnya..
Saat aku sedang duduk di hadapan api unggun, tapi jiwaku ditarik mundur ke waktu lampau, membuatku membuatku terpecah dalam dua waktu yang berbeda dalam ruang yang sama..
Saat ia muncul, suaraku ditarik ke ruang yang jauh, dan diputar kembali di waktu yang berbeda..
Saat aku sedang menatap diriku sendiri yang terjebak di belakang cermin..
Saat pikiranku perang hingga terpecah menjadi dua blok, salah satu di antaranya lari ke dimensi yg membuatku tak sadar, membuatku terjepit di antara keadaan sadar dan tidak sadar..
Ketika mataku, telingaku, pikiranku menipu, aku larut dalam dimensi palsu yang dikonstruksi dengan begitu nyata, aku berhasil diliciki pikiranku sendiri..
Hingga pada akhirnya aku tak pernah tahu, aku kah yang mempermainkan seluruh ruang dan waktu? Pikirankukah? Atau justru aku yang selama ini menjadi objek permainan mereka?
Kamis malam awal Maret lalu, di salah satu sudut pinggiran kabupaten Sumedang, tak jauh dari kampus empat perguruan tinggi besar, sembilan pemuda (yang akan disebutkan dengan nama samaran) berkumpul di rumah seorang kawan mereka. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa baru, tapi ada pula yang dari tingkat dua dan tiga. Mahasiswa dari kampus yang berbeda-beda ini dipersatukan oleh latar belakang hobi yang sama, dan tentunya alkohol. Mereka bercanda, makan malam, serta bermain kartu. Sebuah rutinitas untuk memangkas waktu bersama. Salah seorang hadir membawakan permainan baru bagi malam itu. Permainan tersebut tertanam dalam tiga lintingan kecil dan tersembunyi di dalam kotak rokok. Tentunya bukan rokok dan terlalu mungil untuk ganja. Mereka sebuah tembakau yang akrab dengan julukan “sinte” atau “ganja sintetis”. Salah seorang dari mereka, Jarwo, mengambil dan menyulutnya. Ia mengisap hanya dalam satu tarikan. Dilanjutkan ke temannya, Andre, yang memang sudah terbiasa menggunakan...
Comments
Post a Comment