Skip to main content

The End

Let me tell you about the ending of one short love story. There is no prince, neither a princess. But there were a teenage girl and a man almost 30 years old.

He looked tired, and was drunk, but not hangover yet. His breath smelled of beer mixed up with ciggarate. His deep black eyes went reddish, his tie was loosened. He took a deep breath. Here we were, in the middle of a big party, in the middle of chaos, where everyone knew everyone, but we kept touched only in ourselves. Stared to each other without any spoken words, long silence remained between us. He took a sip of his beer, then locked his black reddish eyes on mine.

"I gotta go, it's already late," I said, then walked away.

"don't," he pulled my hand, "don't go" then pulled all over my body. I was breathless. And speechless.

"I need you to be here tonight," he stopped, then his face went closer to mine, he didn't complite his sentence yet. "I like you girl," he touched my arms with his warm bare hand. Then he hugged me very tight, it felt save and warm.

"You're freezing," he said, and I was freezing.

"But you keep me warmth," I can felt his heartbeat on mine. I felt my own heartbeat went all over my body, especially my throat, it was beating really hard. I should felt embrassed at that moment because he knew I was nervous, but I'm not. Because I can felt his heart beating faster than me. "I like you too," I said in my shaken sound."but I really gotta go, and you have to flight back to your country this morning".
"Then if you really like me," he released my body slowly "why don't you please me to stay here". His eyes wondered, I really didn't knew what to say. He was a stranger, but

"Because I like you just like the way I like to see how the bird fly, in their free, up to the air. If I cage it, than I wouldn't like it anymore, I'll get bored. I want to see it fly. I'm glad that I have been fly with that bird, but I'll let it go. Then one day when I miss it, I will go flashback, nostalgia to our moment," I paused, he touched my cheek, it was really warm "and if one day I see it fly with another bird, I'll smile, because I'll remember that I was flying with it too, and it was an amazing time." My teardrops fall slowly into my cheek, then he removed it. "I can't possess you, and I can't be possess."

"You look beautiful when you cry. Innocence, selfless, pure." he smiled, that was his first smile in that night. I held my breath as he kissed my cheek. "Okay then, I'll call or email you this morning. We'll keep in touch."

"Don't. Don't keep in touch." I smiled.  His right hand still remain on my left cheek.

"Why?" he asked. I could smelled the beer and the cigarrate came out from his mouth. But what if I said that I enjoyed smelling at it.

"Just let it go. Let it be our ending. The end of our 'a week' love story," I laughed. It was weird to know one person less than one week, but you could trust it as he was your old bestfriend.

"Oh my god! What the hell are you talking about? You said you liked me then you just made our ending? Haha," he laughed, and took off his hand from my cheek."Well if that what you want, nice to meet you miss, it was an honour to be your partner for a whole week," he took my hand then kissed it, just like in a fairytale or a story about prince and princess.

"Nice to meet you too your majesty!"


There was a love story, and that was the ending. You don't have to possess someone to make a good ending.

Comments

Popular posts from this blog

Rekam Jejak Ganja Sintetis

Mendengar dan mendapat informasi dari beberapa pengguna, seperti R dan T tentang penggunaan ganja sintetis. Mereka mengatakan bagaimana mendapatkan “barang” (ganja sintetis) itu dan keduanya mengakui betapa mudah mendapatkannya. Dari sana, kami menelusuri sebenarnya bagaimana awal mula atau rekam jejak mengenai ganja sintetis ini. Sebagai aktivis yang bergerak untuk melegalkan ganja, Dhira Narayana dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN), mengaku pernah mendapatkan ganja sintetis ini sekitar tahun 2012 yang ia dapatkan dari temannya. Ia pun mengaku tertipu karena ternyata efek yang dihasilkan berbeda dari yang alami. Baginya ganja sintetis itu lebih berbahaya. “Ya, pertama kali make ketipu di tahun 2012 dibawa sama temen dibilangnya ganja. Ketika saya pakai awalnya gelap. Rasanya seperti melihat langit tapi kayak cahaya-cahaya. Saya jadi parno, mau balik ke dunia biasa gak bisa dan saya ketakutan. Cuma 5-10 menit dan hilang. Saya gak mau make lagi, yang pasti itu berbahaya karena k...

“Mainan” Baru Candu Baru

Kamis malam awal Maret lalu, di salah satu sudut pinggiran kabupaten Sumedang, tak jauh dari kampus empat perguruan tinggi besar, sembilan pemuda (yang akan disebutkan dengan nama samaran) berkumpul di rumah seorang kawan mereka. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa baru, tapi ada pula yang dari tingkat dua dan tiga. Mahasiswa dari kampus yang berbeda-beda ini dipersatukan oleh latar belakang hobi yang sama, dan tentunya alkohol. Mereka bercanda, makan malam, serta bermain kartu. Sebuah rutinitas untuk memangkas waktu bersama. Salah seorang hadir membawakan permainan baru bagi malam itu. Permainan tersebut tertanam dalam tiga lintingan kecil dan tersembunyi di dalam kotak rokok. Tentunya bukan rokok dan terlalu mungil untuk ganja. Mereka sebuah tembakau yang akrab dengan julukan “sinte” atau “ganja sintetis”. Salah seorang dari mereka, Jarwo, mengambil dan menyulutnya. Ia mengisap hanya dalam satu tarikan. Dilanjutkan ke temannya, Andre, yang memang sudah terbiasa menggunakan...

Tersesat dalam Bahasa

X. Begitulah orang-orang memanggil dirinya. Sebuah kata yang terdiri dari huruf. Satu saja, tak lebih. Sebuah huruf mewakili sebuah nama merepresentasikan seseorang. Hanya kata karena sang ibu ingin melepaskan dirinya dari makna-makna, dari marga, dari berbagai arti. Sang ibu tak ingin anak perempuannya mengalami apa yang dialami ibunya. Membawa beban atas makna dari namanya kemana-mana. Mentato identitas di wajahnya melalui marga yang tercetak di kartu identitasnya. Dituntut menjadi sebuah karakter sebagai dampak dari nama yang diberikan kedua orang tuanya. Ia tak ingin menuntut apa-apa dari anaknya. "Silahkan buatlah makna sendiri. Bentuklah sebuah tuntutan sesuai keinginanmu. Ukirlah identitas yang tepat bagimu." Namun sang ibu lupa. Huruf pun melahirkan makna. Kejanggalan melahirkan imajinasi yang lebih liar dalam memaknai. Ia tak pernah benar-benar berdiri sendiri. Berkaitan dengan huruf lain, benda lain, makna lain, realitas lain. Ia telah melahirkan sesuatu yang lebi...