Skip to main content

Posts

Anti-Peluru

"Mengapa kau mempertahankannya?" "Karena itu mampu membuatku marasa nyaman" Mengenakan gelang dari dia yang sudah mati Mempertahankan keperawanan saat segala harga diri sudah dirampas Mempertahankan idealisme saat seluruh dunia menyadarkan bahwa tidak ada yang ideal Mengenakan helm, "helm murah itu tak akan kuat melindungimu", ku tahu, setidaknya ku merasa aman "Mengapa kau terus bertahan dalam ilusimu?" "Karena ilusiku lebih menyenangkan daripada reaalita" "Tapi semua yang kau pertahankan sudah tak bernyawa" "Mereka tetap bernyawa dan dapat hidup kembali dalam ilusiku" Aku memang tak pernah mencapai titik ideal Setidaknya ideal itu menjadi acuan kemana aku pergi Walau aku tak akan pernah sampai ke tujuannya Setiap langkahku hanya mendekatkanku setengah dari jarah yang tersisa Akan selalu ada langkah yang harus aku tapaki Ideal itu memang hanya bergerak dalam pikiran Hanya? Untungnya ia hanya ber...

Hilangnya Papua

Suara rakyat Papua, saudara satu bendera kami, semakin lama, semakin memudar, hingga perlahan menghilang dan terlupakan. Website yang menjadi lahan mereka untuk berdialog dengan wilayah luar diblokir satu persatu dengan himbauan “Internet Sehat dan Aman”. Pertanyaannya, sehat dan aman bagi siapa? Mencari informasi tentang Papua menjadi hal yang sulit. Setiap berita yang lahir keluar dari mulut mereka yang berada di pihak pemerintahan. Tidak seimbangnya informasi yang beredar merekonstruksi realitas kejadian yang mewarnai Papua hanya dari satu sisi. Masyarakat terasa sulit untuk mendapatkan informasi yang utuh dan jelas soal keberadaannya. Sulitnya mencari informasi ini sebenarnya lahir dari sulitnya akses dan birokrasi para wartawan untuk meliput dan mencari informasi di Papua. Rumitnya birokrasi yang ditawarkan seolah melarang para wartawan untuk melihat secara langsung kejadian yang sebenarnya. Dua wartawan asal Perancis pernah tertangkap karena masuk wilayah Papua tanpa izin dan di...

Bebaskan Aku

Suatu sore, wanita yang pernah membawaku dalam kandungannya selama sembilan bulan menanyakanku hal yang selalu ia pertanyakan tiap kali menemuiku, "Mau teh atau kopi?" "Teh, Ma," jawabku menyesuaikan mood untuk berbicara santai atau serius. Bagiku, pilihan minuman, panas atau dinginnya, selalu ikut campur dalam percakapan antar dua insan yang sedang bercengkrama. Wanita ini memang unik, atau hubungan kami yang unik. Kami jarang bersapa atau bertatap muka, tapi setiap kali bertemu seolah ia adalah sahabat lama yang hapal setiap jejak hidupku. Mungkin ikatan yang ada selama sembilan bulan bersama tidak berbohong. Sore itu, aku yang masih dalam keadaan keringat dari seragam putih-biruku, mengawali pembicaraan tentang betapa aku penasaran dan peduli akan "human trafficking". Aku menunjukkan beberapa artikel, serta menceritakan beberapa cerita dan film yag kutemui dengan tema itu. Ia terus mendengarkanku. Pada akhir ceritaku, ia berkomentar dan men...
Entah seberapa sering aku dibuat lari jauh untuk menangis oleh tempat ini, anehnya aku selalu kembali kesini untuk terlelap . Mungkin ini yang kata mereka adalah rumah.

Mengapa bermain dengan dimensi itu begitu menyenangkan?

Saat tubuhku terbaring tapi rohku terbang dan melompat dari satu ke awan lainnya.. Saat aku sedang duduk di hadapan api unggun, tapi jiwaku ditarik mundur ke waktu lampau, membuatku membuatku terpecah dalam dua waktu yang berbeda dalam ruang yang sama.. Saat ia muncul, suaraku ditarik ke ruang yang jauh, dan diputar kembali di waktu yang berbeda.. Saat aku sedang menatap diriku sendiri yang terjebak di belakang cermin.. Saat pikiranku perang hingga terpecah menjadi dua blok, salah satu di antaranya lari ke dimensi yg membuatku tak sadar, membuatku terjepit di antara keadaan sadar dan tidak sadar.. Ketika mataku, telingaku, pikiranku menipu, aku larut dalam dimensi palsu yang dikonstruksi dengan begitu nyata, aku berhasil diliciki pikiranku sendiri.. Hingga pada akhirnya aku tak pernah tahu, aku kah yang mempermainkan seluruh ruang dan waktu? Pikirankukah? Atau justru aku yang selama ini menjadi objek permainan mereka?

movie

Life is a real endless movie There are both happiness and assholes Ambience, string of guitars, dialogs, sound of breath Light, shadow, colours But no great or sad ending That's why we need a fake movie To feed our needs of ending One thing to be sure Actually, even in movies, there is no such a happy ending They only cut it on the happy scene The End

Terima Kasih Untuk Tetesan Darah di Serpihan Cermin

Untuk waktu yang cukup lama, aku memerhatikan gadis yang sedang berdiri di hadapanku. Ia tenggelam dalam gaun hitam sambil memegang sekuntum bunga hitam. Gaun yang sama ketika aku menemuinya enam tahun yang lalu, di tempat yang sama pula. Tangannya berusaha untuk menggenggam bunga itu, sampai perlahan akhirnya ia jatuhkan. Bunga itu jatuh di sebelah kaki putih tanpa alasnya. Kami hanya dipisahkan oleh jarak sekitar dua langkah. Sayap putih besar tipis di bagian belakang punggungnya membuat tubuhnya terlihat semakin kurus. Tulang selangkanya menonjol. Bunga hitam dekat kakinya dikelilingi beberapa bulu dari sayap putihnya yang terjatuh. Aku memandangnya, ia balik menatapku. Aku bingung arti di balik tatapannya itu. Tatapan ini persis seperti tatapannya enam tahun yang lalu. Semakin lama aku melihatnya, justru semakin kesal aku dibuat olehnya. Aku kesal karena aku tidak pernah memahaminya. Tatapan matanya semakin tajam dan berkilau akibat air di dalamnya. Hingga air tersebut berubah...