Skip to main content

Posts

Bising Alarm

Alarm melengkinkan suaranya Menendang setiap sisi ruang Memaksaku untuk membuka mata Cahaya terik menyusup melalui jendela menembus tirai Terpecah menjadi beberapa garis tajam Bising Silau Ada yang berteriak Ada yang bergerak Banyak yang berteriak Banyak yang berlari Aku tak bergerak Menutup telinga dan mataku Tidak tidur pun bangun Kuhanya meringkuk di sudut itu Tak ingin beranjak Tak ingin melihat mata-mata yang akan merendahkan Mata-mata yang tak pernah kumenangkan dalam sejuta argumen Mata-mata yang lebih besar dariku Mata-mata yang dengan mudah menyakitiku Mata-mata yang mampu membuatku sekarat dalam satu kedipan Mata-mata yang tak pernah membiarkanku mati, pun hidup Mata-mata yang jauh melebihi mataku Mata-mata yang jauh melebihi mataku dalam segalanya Mataku yang saat ini hanya mampu meneteskan air mata Mataku yang takut melihat sinar matahari takut mengetahui hari telah tiba Mataku yang gemetar mendengar alarm gemetar mengetahui harus beranjak kel...

Berhenti

Terik matahari menyengat kepala Kini ia duduk memerhatikan orang-orang Mendengarkan percakapan yang terjadi di sekitarnya Suara-suara semakin lama semakin pudar Takada lagi alasan untuk memabukkan diri Pun takada lagi alasan untuk memertahankan diri dalam kesadaran Orang-orang silih berganti di sekelilingnya Ia masih duduk di sana Tak lagi memerhatikan percakapan Namun masih memertahankan kesadaran Ia menunggu turunnya hujan Agar setidaknya ada yang bisa ia lakukan Setidaknya ia bisa menghitung rintik hujan Cuaca terlalu terik bagi awan untuk menurunkan hujan Takada hujan yang menemani Ia masih duduk di sana Tak melakukan apa-apa Tak ingin lelap, tapi terjaga pun sulit Pun sebenarnya keduanya tak pernah ada artinya Sehingga ia memilih untuk tetap duduk di sana Tanpa melakukan apa pun Berendam dalam pikirannya Namun takada yang ditemuinya di sana Hampa Semakin lama semakin sesak dipukuli oleh kekosongan Takada alasan untuk beranjak, pun takada alasa...

Coklat

Namaku Aslam. Kulitku coklat. Kulit ayahku putih. Kulit ibuku hitam. Sewaktu kecil, kukira manusia memang memiliki warna yang beragam. Namun ketika memasuki taman kanak-kanak, ternyata tidak begitu. Ayah mengantarku di hari pertama sekolah. Semua anak-anak di sekolah mempunyai kulit yang sama seperti ayah. Putih. Aku melangkah masuk kelas mengenakan tas hitamku di punggung. Ibu guru sudah duduk di kursi depan kelas. Mata anak-anak mengarah kepadaku. Beberapa tampak bingung, sisanya berbisik-bisik sambil tertawa. Ibu guru pun sempat menatapku cukup lama sampai akhirnya ia memulai kelas. Pelajaran pertama adalah pelajaran matematika. Pelajaran yang sebenarnya cukup menyenangkan bagiku. Namun aku tak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh guruku. Pikiranku terus mengacu pada anak-anak yang berbisik-bisik dan tertawa dengan mata-mata mengarah padaku. Kala waktu istirahat tiba, anak-anak menertawakan dan memanggilku dengan “hitam”. Padahal aku tidak hitam, walau aku tah...

Dariku, Yang Baru Saja Mati

Setiap detik yang terbunuh oleh detik lainnya Hari yang terbunuh oleh hari lainnya Tahun yang terbunuh oleh tahun lainnya Masa depan yang kelak akan membunuh masa kini Entah siapa yang memiliki kuasa Apakah pihak-pihak kapital itu? Ataukah waktu? Bukankah kita semua kelak akan dibunuh oleh waktu? Adakah di antara kalian yang juga merasa dipermainkan oleh waktu? Adakah yang lelah selalu dikejar oleh waktu? Kita makan siang dan makan malam Di saat yang sama, siang dan malam pun memakan kita Menjadikan adanya keberadaan lampau Yang sebenarnya sudah mati Aku yang tadi siang sedang makan, sudah mati Ia sudah mati Aku yang beberapa tahun yang lalu lulus sekolah pun sudah mati Apalagi Aku yang sempat dilahirkan oleh perempuan itu, kami sudah sama-sama mati Dibunuh oleh waktu Hanya tersisa saat ini Saat ini pun waktu terus sibuk mencincang kami Terus membunuh kami Berkali-kali Lelahkah kalian mati secara terus-menerus? Aku yang mati, kamu yang mati, dia yang mati, kami ...

Resensi Buku Mobil Bekas - Bernard Batubara

Candu

Setelah beberapa tahun berlalu, potongan-potongan gambar kecil dari suasana Bandung tiba-tiba menarikku ke kenangan di masa lampau Sebuah kenangan yang telah kukubur secara paksa Luka yang telah kering dan berhenti mengalirkan darah Bagian dari hidup yang kupotong dan kuhilangkan Setiap orang pasti memiliki sebuah bagian yang ia hapus Entah ia berupa ruang, waktu, nama, kata Ia pun telah kuhapus. Sebuah pojok dari Bandung yang mengandung kisah bersama sebuah nama, sebuah pengakuan, sebuah air mata, yang terangkul dalam kecupan terakhir Kopi hitam pada malam itu sesaat terasa asin  Tanpa kusadari air mata ikut tercampur ke dalamnya Setelah lama tersesat mencari kuburnya, akhirnya mampu kutemukan Ia masih terhias dengan cantik sepeti terakhir kumeninggalkannya Hari ini, ku hendak menggali kuburnya Kusingkirkan bunga-bunga yang tertabur di atasnya, kuambil sedikit demi sedikit tanah yang menutupinya, hingga ia sedikit terbuka Tercium aroma busuknya Terlalu lama ia di...

Lepas dan Mati

Kau ikat dia Kau kurung dalam sebuah ruang Kau ajari Kau didik Kau bentuk Apa itu dunia, bagaimana ia bekerja, bagaimana segala sesuatu bekerja Apa itu cinta Apa itu benci Mana yang baik, mana pula yang tidak Ini hitam, ini putih, hanya orang gila yang membentuk garis abu Ada kalanya kau menjadi tua, dan sayapnya sudah terlalu besar untuk hidup dalam ruang itu Kau buka kurungannya Kau lepas Silau, sungguh silau Matanya tak terbiasa melihat cahaya matahari Kulitnya tidak terbiasa terkena debu jalanan Sayapnya tak terlatih untuk terbang Kau mati, ia pun masih hidup Kau mengajarinya tentang idealis, tapi yang dilihat hanyalah realitas Kau mengajarinya tentang hitam-putih, tapi yang dilihatnya hanya abu Kau lupa, ia seharusnya belajar sejak dini Kau lupa, ia bukan kau Kau lupa, kelak ia akan dewasa dan menghidupi dirinya sendiri Kau lupa mengajarkannya untuk hidup Berkat segala bentukanmu, ia lapar, rapuh, lemah, bingung Terapung dan tersesat Ia mengulang se...